Arsip untuk April 9th, 2008

09
Apr
08

sekilas tentang SMA saya.

Selamat datang di SMA Negeri 1 Simo

SMA Negeri 1 Simo berdiri pada tahun 1983, menempati area
seluas 3 hektar.  Pada awal berdirinya, sebelum memiliki gedung sendiri,
selama 1 tahun menginduk di SMP Negeri 1 Simo. Berdirinya SMA Negeri 1 Simo ini
sangat disambut penuh antusias oleh masyarakat sekitar yang meliputi kecamatan
simo, Nogosari, Klego, Sambi, Karanggede, Ngemplak dan bahkan masyarakat di luar
kabupaten Boyolali seperti kabupaten Semarang, Sragen dan Karanganyar. Hal
tersebut tidaklah mengherankan karena daerah-daerah tersebut pada saat itu belum
ada SMA Negeri-nya. Selain itu kehadiran SMA Negeri 1 Simo menambah jumlah
sekolah di Simo yang pada tingkat nasional menduduki peringkat ke-2 dalam hal
jumlah sekolah pada tingkat kecamatan. Sehingga sejak dulu Simo memiliki
predikat kota pelajar.

Seiring perkembangannya dari tahun ke tahun SMA Negeri 1 Simo
mengukir prstasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik. dari tahu ke
tahun semakin besar jumlah alumninya yang berhasil masuk ke perguruan tinggi
negeri baik melalui jalur PMDK/PBUD maupun UMPTN/SPMB.

Dalam bidang akademik SMA Negeri 1 Simo lebih dari 1
dasawarsa terakhir ini selalu menduduki peringkat ke-2 atau ke-3 dalam hal
perolehan nilai ulangan semester maupun nilai ujian nasional.


MISI DAN VISI :

BERPACU DALAM PRESTASI, TERPUJI DALAM PEKERTI

INDIKATOR :
1. UNGGUL DALAM PEROLEHAN NEM/NILAI UJIAN
2. UNGGUL DALAM PMDK/PBUD DAN UMPTEN/SPMB
3. UNGGUL DALAM KEJUARAAN LOMBA,OLYMPIADE DLL.
4. UNGGUL DALAM AKTIVITAS KEAGAMAAN, OLAH RAGA, SOSIAL DAN SENI
5. UNGGUL DALAM KEMAMPUAN BERBAHASA DAN TIK
6. UNGGUL DALAM BIDANG TATA KRAMA, KEDISIPLINAN DAN KEPRAMUKAAN

MISI :
1. MELAKSANAKAN PROSES PEMBELAJARAN DAN BIMBINGAN SECARA EFEKTIF
2. MENYIAPKAN SISWA DALAM MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE JENJANG YANG LEBIH TINGGI
3. MENUMBUHKAN SEMANGAT PENGHAYATAN TERHADAP AJARAN AGAMA YANG DIANUT
4. MENDORONG DAN MEMBANTU SETIAP SISWA UNTUK MENGENALI POTENSI DIRINYA
5. MENUMBUHKAN SEMANGAT KEUNGGULAN SECARA EFEKTIF PADA SETIAP WARGA SEKOLAH

09
Apr
08

persiapan bahan tanam dan pembibitan.

B. Persiapan Bahan Tanam dan Pembibitan

Terminologi
Beberapa pengertian umum yang sering dijumpai dalam budidaya kakao :

Varietas : bahan tanaman yang dikembang biakkan secara          generatif (dengan benih hibrida).

Klon    : bahan tanaman yang dikembangbiakkan secara       vegetatif (dengan stek, okulasi, sambung samping)

Klon – Klon Kakao Mulia Anjuran

Klon Kakao Mulia Anjuran : DR 1, DR 2,DR 38 dan DRC 16
Keunggulan :
Produksi tahun kelima dapat mencapai 1 – 2 ton biji kering/ha/tahun, pada jarak tanam 3×3 atau 4×2 meter (populasi 1100 atau 1250 tanaman/ha).
Mutu hasil sesuai dengan keinginan konsumen : berat biji kering ± 1,2 gram/biji, kandungan lemak > 56%, persentase kulit ari ± 12 %.
Toleran terhadap penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora), khususnya klon DRC 16.
Beradaptasi cukup luas terhadap ketinggian tempat dan dapat dibudidayakan dari 0 – 650 m dpl.
Varietas dan Klon Lindak Anjuran

Varietas : Varietas hibrida F1 keturunan :
ICS 13 x Sca 6 / Sca 12        GC 7   x Sca 6 / Sca 12
ICS 60 x Sca 6 / Sca 12        DR 1   x Sca 6 / Sca 12

Klon : GC 7, ICS 13, ICS 60, TSH 858, TSH 908, Pa 300,     Pa 303, RCC 70, RCC 71 dan RCC 72.

Keunggulan :
Produksi th.ke V dapat mencapai 1,5 – 3 ton bijio kering /ha/th, pada jarak tanam 3 x 3 atau 4 x 2 m (populasi 1100 atau 1250 tanaman /ha).
Mutu hasil sesuai dengan keinginan konsumen : berat biji kering ± 1,0 gram / biji, kandungan lemak > 50 %, persentase kulit ari ± 12 %.

Toleran terhadap penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora), penyakit antraknose (Collectotrichum) dan VSD (Oncobasidium theobromae).

Beradaptasi cukup luas terhadap ketinggian tempat dan dapat dibudidayakan dari 0 – 650 m dpl.

Perbanyakan Generatif

1.Pemilihan buah

Buah kakao tersebar pada batang, cabang dan ranting.
Buah kakao masak untuk benih diperkirakan 21 minggu setelah anthesis.
Secara empirik dapat dihitung dengan rumus :

N = 2500 / (T-9), dimana N = umur buah dari saat
anthesis
T = temperatur rata-rata harian
2. Pemilihan biji

Biji yang digunakan dapat berasal dari bagian pangkal, tengah dan ujung.

Biji yang digunakan untuk benih dianjurkan bernas dan berukuran sedang (kisaran berat 100 bijinya adalah 100 gram).

Biji kakao harus segera dikecambahkan karena biji kakao tidak mempunyai masa dormansi.
Kebutuhan bibit kakao untuk areal pertanaman 1 Ha

Tanah datar, jarak tanam 3 x 3 m    = 1.111 pohon
Persediaan sulaman 20 %        =    222 pohon
Jumlah                 = 1.333 pohon
dibulatkan     = 1.300 pohon
bibit afkir 20 %, sehingga bibit yang harus disiapkan di pembibitan = (100/80) x 1300 pohon = 1.625 pohon.

Tanah miring, jarak tanam 4 x 2,5 m    = 1.000 pohon
Persediaan sulaman 20 %        =    200 pohon
Jumlah                 = 1.200 pohon
bibit afkir 20 %, sehingga bibit yang harus disiapkan di pembibitan = (100/80) x 1200 pohon = 1.500 pohon.
Kebutuhan benih kakao untuk areal 1 Ha

Asumsi daya kecambah benih 90 %, jumlah kecambah yang dapat dipindahkan 95 %, jumlah bibit yang dapat ditanam 80 %. Kebutuhan benih kakao = 100/90 x 100/95 x 100/80 x Y = 1,46 Y (Y = jumlah bibit yang dibutuhkan).

Pelaksanaan perkecambahan biji

Perkecambahan dilakukan dalam bedengan yang berukuran lebar 0.8 – 1 meter dan panjangnya menurut kebutuhan.
Dibuat pada tanah gembur yang diatasnya dilapisi pasir setinggi 15 cm.
Bedengan diberi atap setinggi ± 1,5 meter di sebelah Timur dan ± 1.2 meter di sebelah Barat.
Cara meletakkan biji dengan radicle(tempat keluarnya akar) di sebelah bawah karena biji kakao bersifat epigeal
Biji disusun dengan jarak antar alur ± 3 cm dan antar biji ± 1 cm.
Penyiraman dilakukan pagi dan sore.

Pemindahan kecambah ke dalam keranjang pembibitan

Saat memindahkan ke keranjang / polybag dilakukan bila keping biji mulai tersembul ke atas (biji mulai berkecambah setelah 4-5 hr dikecambahkan dan diharapkan pada hari ke 12  semua biji sudah berkecambah ).
Pemindahan jangan terlambat karena menyebabkan terputusnya akar tunggang.
Ukuran keranjang / polybag diameter 15 – 20 cm dan tinggi 30 – 35 cm.
Polybag diisi dengan tanah kompos dan pasir (1 : 1), polybag berisi kecambah di susun teratur di atas tanah yang sedikit ditinggikan.
Penyiraman dilakukan pagi dan sore , pemupukan  ZA 2 gram dilakukan 2 mg setelah bibit dipindah ke polybag.

Pemindahan bibit ke kebun

Bibit siap dipindah ke kebun setelah berumur 4-6 bulan.
Kakao lindak bisa lebih awal karena pertumbuhannya lebih cepat dari pada kakao mulia.
Kriteria yang umum digunakan adalah bibit yang sedikitnya mempunyai 12 daun yang sudah tua, tinggi bibit > 50 cm dan diameter batang ± 1,5 cm.
Sebelum bibit dipindah, dilakukan hardening (penarangan ) yaitu melatih bibit untuk menyesuaikan dengan keadaan lingkungan di kebun.caranya dengan membuka atap bedengan secara bertahap sebulan sebelum dipindah (tiap minggu 25 %).
Dihindari pemindahan bibir berumur > 8 bulan karena sebagian besar akarnya telah menembus polybag, pemindahan dilakukan musim hujan karena biasanya pertumbuhan awalnya mengalami stagnasi.

09
Apr
08

peta wilayah boyolali.

GAMBARAN UMUM LOKASI BOYOLALI
Kabupaten Boyolali sebagai salah satu dari 35 Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Tengah, terletak aantara 110o 22 ‘ – 110o 50’ Bujur Timur dan 7o 36’ – 7o 71’ Lintang Selatan, dengan ketinggian antara 75 sd 1.500 meter dari permukaan laut dan memiliki jarak bentang:
- Barat – Timur : 48 KM
- Utara – Selatan : 54 Km.

Adapun yang menjadi batas-batas wilayah Kabupaten Boyolali adalah:
- Sebelah Utara : Kab. Grobogan dan Kab. Semarang.
- Sebelah Timur : Kab. Karanganyar, Kab. Sragen dan Kab. Sukoharjo.
- Sebelah Selatan : Kab. Klaten dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
- Sebelah Barat : Kab. Magelang dan Kab. Semarang.

Secara administratif Kabupaten Boyolali terdiri dari 19 Kecamatan yang terbagi menjadi 262 desa dan 5 kelurahan. Dari seluruh desa dan kelurahan yang ada, 224 desa/kelurahan merupakan desa yang berada di dataran rendah atau sekitar 83 persen dari seluruh desa/kelurahan dan selebihnya merupakan desa di dataran tingi.

Kabupaten Boyolali memiliki luas wilayah sebesar 101.510,1 hektar yang terdiri dari 22.119 ha (21,79%) lahan sawah dan 79.371,1 ha (78,21%) bukan lahan sawah.
Ditinjau dari sisi penggunaan lahan, luas lahan sawah terbesar berpengairan teknis (23,98%), lainnya berpengairan setengah teknis, sederhana, tadah hujan dan lain-lain.
Sedangkan lahan kering yang digunakan untuk bangunan/pekarangan sebesar 25.023,2 ha (31,52%), tegal/kebun/lading/huma sebesar 30.608,9 ha (38,55%), hutan Negara seluas 14.454,7 ha (18,21%) dan selebihnaya dipergunakan untuk padang gembala, tambak/kolam dan lainnya yang mencapai 11,72% dari total bukan lahan sawah